Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
Gagalnya Sistem Keadilan Sosial
*Aksi Kamisan ke-897 Surabaya
Rintik hujan tak menghalangi suar menyerukan perlawan atas kegagalan negara melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) rakyatnya. Puluhan massa aksi tetap teguh menjaga nyala perlawanan dalam Aksi Kamisan ke-897 di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 12 Februari 2026.

Mereka datang dari berbagai elemen, mulai mahasiswa sampai pekerja. Kamis sore mereka selalu berkumpul, tanpa aba-aba apalagi perintah. Berbagai poster dibentangkan. Isinya beragam, namun maksudnya sama, yaitu protes. Di bawah payung hitam, aksi mereka diresonansi.

“Aksi ini untuk merawat ingatan agar kejahatan atas HAM di masa lalu dan hari ini, tidak dilupakan begitu saja,” ujar salah satu peserta aksi. Mereka tetap setia berdiri demi merawat ingatan dan melawan impunitas. Tragedi yang tidak berkesudahan menorehkan tinta luka.

Anak-anak muda ini teguh setiap Kamis hadir dalam Aksi Kamisan di Surabaya. Mereka memberikan waktunya untuk merawat ingatan agar kejahatan atas HAM di masa lalu dan hari ini, tidak dilupakan begitu saja. (Robertus Risky/Project Arek)

Mati Dipeluk Kemiskinan

Salah satu tragedi itu terjadi belum lama ini. Seorang bocah yang masih duduk di bangku SD, tepatnya di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), di temukan tewas tergantung di pohon halaman rumahnya. Ia tewas dipeluk kemiskinan. Ibunya tak sanggup membelikannya buku dan pensil seperti pintanya sebelum meninggal.

Peristiwa itu menjadi sejarah kelam bangsa ini. Sistem pendidikan yang buruk, membawa korban nyawa seorang anak. Lagi-lagi negara dikritik tidak hadir bagi mereka yang lemah, tertindas, miskin, dan terpinggirkan. Bagi peserta aksi, ia mati bukan karena bunuh diri melainkan ‘dibunuh’ sistem yang tak berpihak pada kaum papa.

"Kegagalan negara dalam hal menjamin dan melindungi hak-hak yang seharusnya didapat oleh pelajar. Karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Bahwa hal itu sudah diamanatkan dalam undang-undang," pekik Semaoel Surosentiko, salah satu massa aksi.

 

Berbagai poster mereka bentangkan. Isinya sama dengan apa yang mereka suarakan, yaitu perlawanan atas ketidakadilan dan pelanggaran HAM yang terus terjadi. (Robertus Risky/Project Arek)

Dalam Bayang-bayang Orba

Massa aksi melihat, ambisi kekuasaan dan keserakahan menjadi potret para penguasa repubik. Menurut mereka, semakin banyak keputusan pemerintah yang sekedar memperkaya lingkar oligarkinya. Teror masih terus terjadi. Penangkapan masyarakat yang kritis sejak Agustus 2025 lalu, menjadi bukti represi pemerintah.

Masih dalam tuntutan sama, massa aksi meminta negara mengadili pelaku pelanggaran HAM berat yang hingga saat ini bebas berkeliaran, bahkan duduk di bangku pemerintah, salah satunya Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai presiden.

 

Payung dan pakaian hitam menjadi simbol duka sekaligus perlawanan yang tak pernah usai. Begitulah massa Aksi Kamisan di berbagai daerah di Indonesia mengekspresikan perlawanannya atas ketidakadilan di Indonesia. (Robertus Risky/Project Arek)

"Aksi kamisan kali ini tidak ada temanya, menuntut pelaku pelanggaran HAM berat dan impunitas di masa lalu," imbuh Semaoel.

Bukan hanya terhadap aktivis, massa aksi juga menyoroti kekerasan yang dialami jurnalis. Salah satunya kasus kekerasan yang dialami jurnalis beritajatim.com, Rama Indra Surya Permana yang sampai saat ini kasusnya tak juga dituntaskan. Rama dikeroyok sejumlah orang yang diduga polisi saat meliput aksi penolakan UU TNI pada 24 Maret 2025.

"Kami juga mengecam dan menuntut agar pelaku kekerasan terhadap jurnalis diadili. Jangan sampai aparat penegak hukum kehilangan kepercayaan publik dan tidak profesionalitas," ungkapnya.

Massa aksi menilai, pemerintah sampai hari ini tidak memenuhi tanggungjawabnya dalam hal keadilan dan ekonomi masyarakat. Menurut mereka, negara gagal mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.